Minggu, 17 Maret 2019

TERUNTUK KAMU, SINCERELY.





"Kenapa sih Tha mau sama bang Fandi?"


Pertanyaan ini sering sekali terlontar saat aku memutuskan menikah bahkan awal pacaran pun. Menurut orang dan selalu dipandang sebelah mata karena tak rupawan, tak banyak uang, dan pembawaan sederhana. Berbanding terbalik dengan aku dan pasti nggak bakal bertahan lama.  Keraguan datang dari sahabat, kenalan, bahkan keluarga sendiri.

Sini yuk aku ajak jalan jalan di masa beberapa tahun yang silam.

12 TAHUN LALU, AGUSTUS 2007

Perkenalkan aku Atha. Perempuan yang tak bisa diatur, senang berjalan, dan senang mencari hal baru. Saat itu sudah putus dari pacar SMA dengan alasan bosan. Ya dulu memang aku sekeji itu. Dan aku tidak merasa bersalah karenanya. Dengan kuliah di Bandung, aku merasa semangat biarpun itu pertama kali seumur hidup aku sangat jauh dirumah dan nggak punya siapa siapa di kota ini.




Perkenalkan namanya Fandi. Pertama kali aku melihatnya saat baris berbaris perkenalan ospek kampus. Saat itu dia salah satu panitia/kakak ospek dan pas sekali sedang berdiri di barisanku. Rambutnya kribo dengan perawakan urakan dan seperti tak perduli dengan siapapun. Disitu, aku terpaku."Seperti kenal" pikirku saat itu. Dan seperti tak bisa melepaskan pandangan. Yang dari dulu aku anti sekali menjadi perempuan seperti itu. Ini aneh.

Perjumpaan pertama kami sangat aku ingat. Malam hari selepas perkenalan anggota di komunitas teater, aku duduk bersama abang angkatan.Yang memang juga bagian dari komunitas itu. Lewatlah lelaki ini. Sweater abu abu, celana jeans robek, sneaker yang sudah usang, dan dengan tampang yang sama. Cuek dengan sekitar.


Akupun tergerak dan berbisik ke abang angkatan, apakah kenal dengan lelaki itu. Diapun memanggil yang ternyata memang kami satu sekolah Al Azhar Medan. Pantesan aku ngerasa ingat, ternyata pernah melihat saat ospek SMA. Padahal aku termasuk orang yang pelupa loh biarpun pernah ketemu. Bahkan sampe sekarang ketemu sama orang aja kalo baru satu kali pasti lupa. Aneh bagian kedua

Berkenalanlah kami dan bertukar nomor handphone. Pertemuan singkat dan hanya sebatas percakapan abang dan adek kelas .Esok malamnya aku melihat dia di bawah pohon bersama panitia ospek lain. Dan terbersit sms duluan. Aneh bagian ketiga. Aku bukan tipikal yang make a move duluan.

Balasan pun berlanjut selama dua minggu kami pdkt. Saat pdkt itu pas banget awal bulan puasa, dan hanya dia yang tahan dengerin aku cerita berjam jam. Padahal kalo laki laki lain mungkin ngeliat cewek banyak cakap udah langsung kabur duluan. Dan ntah kenapa juga aku bisa segamblang itu banyak cerita ke orang baru. Ini aneh bagian keempat. Pdkt kami hanya sebatas di kampus dan makan di dekat kosan aku sambil diantar pulang berjalan kaki. Dulu bandung sangat enak cuacanya untuk sekedar berjalan kaki.

MALAM MINGGU, 15 SEPTEMBER 2007


Sore hari, si bang fandi (dulu aku panggilnya abang loh) tetiba mengajak jalan nanti malam. Aku termasuk orang yang curigaan dan nanya mau kemana diajak. Secara anak baru di lingkungan baru pulak. Ya pasti takut lah. Dia nggak jawab, yang penting percaya dan ikut aja katanya. Akupun mengiyakan. 

Jam 7 malam, datanglah vespa biru didepan kostan menjemput aku. Bandung saat itu rame dan selalu dingin. Aku sudah menyiapkan jaket. Ternyata jalanan makin menanjak dan makin sepi. Ternyata aku diajak ke Bukit Bintang. Tanah lapang di atas perbukitan yang bisa melihat sekuruh kota Bandung dalam gelap. Cantik sekali dan dingin pulak. Hahaha. Lama kami mengobrol dan akhirnya he asking me to be his girlfriend. Tentu aku mengundur sampai besok karena ya nggak mau kelihatan mau banget.
Esoknya di kampus, aku mengajak bertemu di bawah pohon rindang. Kuutarakan bahwa aku pun bersedia dan kami pun bersalaman. Apaan kalo dipikir pikir juga ngapain salaman dan masing masing langsung pake earphone dengerin musik  sambil senyum senyum curi curi pandang. Menutupi rasa gugup kami berdua. Saat itu aku ingat dengerin lagu Muse .Resmilah 16 Sept 2007 sebagai tanggal jadian kami. 

BAGAI BUMI DAN LANGIT

Kami dua orang yang sangat berbeda. 
Bagai bumi dan langit. 
Dia yang sangat terstruktur, bertemu dengan aku yang impulsif. 
Dia yang senang mendem di rumah, bertemu aku yang energi tersalurkan di luar ruangan. 
Dia yang suka dengan teh manis, bertemu aku yang penyuka kopi.
Dia penyuka musik blues, bertemu aku yang senangnya jazz.
Dia yang suka nya superman, sementara aku penyuka batman.
Dia yang terlampau cuek, bertemu aku yang demanding.
Dia yang tak peka awalnya , bertemu aku yang keras kepala.
Dia yang tak mau di kekang, bertemu aku yang senang mengatur.
Dia yang moody-an, bertemu aku yang sensitif. 


Lalu apa lagi yang harus dipertahankan? Jikalau dia dan aku berbeda. Pasti pertanyaan itu terbersit di kepala setiap orang. Dengan ego yang sama sama besar dan dua orang yang menuntut sama sama mengerti.  Mungkin kalian juga berpikiran sama dengan yang lain :  Kok bisa sampai sejauh ini?
 
Ada beratus pertengkaran untuk mencari jalan tengah dan menyatukan perbedaan sifat. 
Ada beribu kompromi untuk merenung dan memahami pribadi masing masing. 
Ada beratusribu jam yang dihabiskan untuk kami bercerita tentang mimpi kami dan tentang keluarga masing masing.
Ada beratus film yang kami tonton setiap minggu dan tertawa bersama.
Ada beribu lagu yang didengar bersama dan bersenandung.
Ada beratus landmark kota dan sudut Bandung tempat saksi langkah kami berdua.
Ada beribu kopi untuk kami bercerita tentang masa lampau dan hari yang akan datang.
Ada berjuta helaan napas untuk kita saling diam dan saling menggenggam.
Ada beratus tangis untuk kami saling bertahan ditengah beberapa orang yang tak mau kami bersatu. Ada berkilometer jauhnya perjalanan kami untuk tahu bahwa ami memang ingin bersama. 
Hanya dia yang tahu rahasia terdalam dan mampu menerimaku.

Ada satu titik balik yang mengukuhkan kami untuk bertahan terhadap apapun dan meyakini keluarga masing masing bahwa kami memang nyata adanya. Setelah perjalan 7,5 tahun pacaran , Tanggal 13 Februari 2005  akhirnya kami mengikat janji untuk hidup bersama. 

DIA ADALAH BUMIKU

Mungkin terdengar klise dan terlalu melankolis.

Aku adalah orang yang terlalu banyak mimpi, terlalu grasak grusuk dalam melangkah, terlalu positif sama sesuatu sampai sampai bisa nggak kelihatan bahaya di depan mata. Terlalu baik sama orang yang terkadang sering sekali dimanfaatkan dan disakiti. 


Ada dia yang menjadi tempatku berpijak untuk sekedar mengambil napas.
Ada dia, tempatku untuk berjalan perlahan dan melihat sudah sejauh mana aku berlari mengejar mimpi. 
Ada dia, dikala aku terhempas dari ketinggian dengan kecepatan kencang,  yang menangkapku sehingga aku merasa aman dan nyaman. 
Ada dia teman travelling yang seru sekali dan lelaki pandai yang pernah aku temui. Tak bosan bercerita dengan dia bahkan berjam jam.
Ada dia yang sangat mengerti yang aku perlukan bahkan saat aku bisa menutupi semuanya dalam senyum. Dengan satu kata "ceritalah" kemudian aku tumpahkan gundahku dalam tangis.
Ada dia yang rela menjadi safe net ku, dikala hidupku beberapa tahun silam sangat kelam dan harus berjuang.
Ada dia, yang selalu membuatku tertawa dan meyakini bahwa hidup memang terkadang harus ditertawakan. Tak perlu serius.
Ada dia lelaki yang apa adanya, yang tak pandai merangkai kata dan tak pandai memberi kejutan, yang selalu mampu membuatku percaya bahwa "ini sudah lebih dari cukup, aku hanya mau dia"
 

Semoga kamu tetap seperti itu. Sampai hanya tinggal kita berdua dirumah menunggu anak anak dan rambut memutih bersama. 

Teruntuk kamu, Bumiku. Sincerely.


 
 




Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Natrarahmani
Maira Gall